“IMPLEMENTASI
AJARAN TRI HITA KARANA DALAM KELUARGA HINDU”
OLEH
:
Nama : Ni Luh Putu Juwita Dewi Novianti
NIM : 111 111 09
Jurusan : Pendidikan Agama Hindu
Semester : IIIA, Pagi
KEMENTERIAN
AGAMA
KATA
PENGANTAR
Om
Swastyastu
Puji
syukur tak henti-hentinya penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida
Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Wara Nugraha-Nyalah maka kami dapat
menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada kami. Adapun tugas kami ini
berbentuk makalah, makalah ini berjudul “IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA
DALAM KELUARGA HINDU” telah dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa banyak sekali kekurangan yang ada dalam makalah ini.
Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sangat
diharapkan guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya
atas segala sumbangsih yang telah diberikan sehingga makalah ini dapat
bermaanfaat nantinya maka kami selaku penulis mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya.
Om
Shanti, Shanti, Shanti Om
Mataram, November 2012
Penulis
Daftar Isi
Halaman
Judul ..................................................................................................................... i
Kata
Pengantar ................................................................................................................... ii
Daftar
Isi ............................................................................................................................ iii
BAB
I Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang ................................................................................................... 1
1.2 Rumusan
Masalah ............................................................................................... 3
1.3 Tujuan
penulisan ................................................................................................. 4
BAB
II Pembahasan
2.1
Pengertian Keluarga ........................................................................................... 5
2.2
Implementasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Keluarga Hindu................................ 6
BAB
III Penutup
3.1
Simpulan ........................................................................................................... 15
Daftar
Pustaka
BAB I PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANGAN
Sebagai umat hindu terlebih lagi sebagai seorang
siswa tentu saja kita tidak asing lagi mendengar kata Tri Hita Karana, karena
dari sejak SD (sekolah dasar) kita telah diperkenalkan dengan Tri Hita Karana.
Meskipun dalam Weda Sruti maupun Smerti sloka yang menyebutkan secara khusus
tentang Tri Hita Karana tidak ada. Hanya saja masyarakat hindu sudah
mengimplementasikan ajaran tersebut.
Secara etimologis bahasa Sanskerta istilah Tri Hita
Karana berasal dari tiga kata yaitu Tri artinya tiga, Hita artinya bahagia, dan
Karana artinya penyebab. Jadi Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kebahagiaan.
Kebahagian akan terwujud apabila kita telah mampu mewujudkan suatu harmoni.
Harmoni adalah suatu hubungan yang selaras dan seimbang antara manusia dengan
Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungan. (Wiana, 2007:
5-6). Atas dasar pengertian keharmonisan inilah maka orang-orang Hindu tetap
tidak mau memisahkan agama mereka dari kehidupan sehari-hari, atau untuk
memisahkan kepercayaan dari kepercayaan besar lainnya di dunia.
Hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan) lebih
menekankan agar manusia menjaga kebersihan dan kesucian dirinya secara lahir
dan bathin serta selalu mendekatkan diri pada beliau melalui tri sandhya,
tirtayatra, yoga dan samadi. Hubungan manusia dengan sesamanya (Pawongan)
hubungan ini melandasi rasa kasih sayang, saling menolong dan toleransi.
Hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan) menekankan pada kemampuan
manusia untuk memelihara, menjaga dan memperbaiki kualitas lingkungannya
melalui serangkaian upacara tertentu. (Gde Rai, 2010:45)
Dasar filosofi dari Tri Hita Karana berdasarkan pada
Bhagawad Gita III. 10 dimana unsur dari Tri Hita Karana adalah Prajapati,
Praja, dan Kamadhuk. Filosofi hidup dalam Tri Hita Karana untuk mewujudkan
sikap hidup seimbang dan konsisten untuk percaya dan bhakti pada Tuhan, mengabdi
pada sesama dan memelihara kesejahtraan alam lingkungan. Pemahaman tentang Tri
Hita Karana tidak boleh sepotong-sepotong karena itu hendaknya Tri Hita Karana
di pahami sebagai suatu kesatuan yang utuh, sinergis dan konsisten sebagai
filosofi hidup yang universal. (Wiana, 2007-8)
Selain itu Tri Hita Karana juga berhubungan erat
dengan Catur Purusa Artha yaitu empat tujuan hidup umat hindu terdiri dari
Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Serta berhubungan pula dengan Catur Asrama
yaitu empat tingkatan atau tahapan hidup yang harus dilalui oleh seseorang,
terdiri dari Brahmacari Asrama, Grhastha Asrama, Wanaprastha Asrama, dan
Sannyasin Asrama. (Wiana, 2007:11-20)
Agama hindu mempercayai bahwa alam dan manusia
diciptakan oleh Tuhan berdasarkan yajna, artinya Tuhan terkait dengan
ciptaan-Nya itu hal ini disebut dengan Lila. Untuk kehidupan alam dan manusia
Tuhan menciptakan Rta dan Dharma. Rta adalah hukuman yang diciptakan oleh Tuhan
untuk mengendalikan dinamika alam yang harmoni dan salah satu dari enam yang
menyangga tegaknya Ibu Pertiwi (Atharwaveda XII. 1. 1). Sedangkan Dharma
menurut Manawa Dharmasastra VII. 14 menyatakan bahwa Dharma adalah putra Tuhan
untuk melindungi semua ciptaan-Nya. Oleh karena itu harmoni alam, manusia, dan
Tuhan harus ditegakkan manusia berdasarkan Rta dan Dharma. Taat kepada Rta
berarti taat kepada kehendak tuhan, menegakkan hukum Rta berarti mengabdi pada
sesama manusia dan lingkungan. Berpedoman kepa Rta dan Dharma adalah wujud
Sraddha dan Bhakti kepada Tuhan. (Wiana, 2007: 21)
Dalam ajaran Tri Hita Karana yang menjadi unsur
sentral adalah manusia, karena hanya manusia yang memiliki Sabda, Bayu, dan
Idep. Ajaran Samkhya Darsana memandang manusia terdiri dari dua unsur yaitu
kejiwaan (Purusha) dan kebendaan (Pradana). Purusa memiliki kesadaran disebut
dengan Citta dengan empat kekuatan yaitu Dharma, Jnana, Wairagya, dan Aiswara.
Setelah Purusa dan Pradana bertemu muncullah Klesa. Klesa memiliki empat
kekuatan yaitu Awidya, Asmita, Raga, Dwesa, dan Abhiniwesa. (Wiana, 2007:26)
Oleh karena adanya Citta dan Klesa menyebabkan
manusia memiliki sifat kedewataan yang disebut dengan Daiwi Sampad dan sifat
keraksasaan yang disebut Asuri Sampad. Maka dalam diri manusia merupakan
sesuatu yang sangat kompleks karena semua yang ada di dunia ini sudah terdapat
dalam tubuh kita. Dengan ajaran Tri Hita Karana mari kita wujudkan hidup yang
selaras dan seimbang. Dan untuk mewujudkan itu semua haruslah diulai dari
lingkungan yang terkecil yaitu lingkungan keluarga kita.
1.2
RUMUSAN
MASALAH
Dari latar belakang diatas maka penulis dapat
menarik sebuah masalah untuk dapat diulas lebih lanjut dalam pembahasan, adapu
masalahnya adalah “ bagaimana implementasi Tri Hita Karana dalam keluarga
Hindu”??
1.3
TUJUAN
PENULISAN
Segala sesuatu yang kita lakukan tentunya memiliki
tujuan yang baik. Demikian pula makalah ini memiliki suatu tujuan mulia yaitu
mengetahui wujud nyata implementasi ajaran Tri Hita Karana dalam keluarga Hindu
dalam mewujudkan harmoni dalam hidup.
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN KELUARGA
Keluarga adalah suatu jalinan ikatan pengabdian
antara suami, istri, dan anak. Jadi keluarga di sini adalah persatuan yang
terjalin di antara seluruh anggota keluarga adalah dalam rangka “Pengabdiannya”
kepada missi atau amanat dasar, yang mestinya diemban oleh anggota keluarga
yang bersangkutan. Sekali lagi dasar ikatan dalam keluarga adalah “Pengabdian”
bukan pengorbanan. (Jaman, 1998:10)
Dari pengertian diatas maka yang disebut keluarga
adalah orang yang menjalani hidup Grhastha. Menurut kitab Agastya Parva disebutkan
Grhasthalah beliau dengan beristrilah beliau, mempunyai anak, memiliki abdi,
memupuk kebajikan yang berhubungan dengan pembinaan diri pribadi (Kayika
dharma) dengan kekuatan yang ada padanya (Yathasakti). Dengan melaksanakan
kehidupan Grhastha kita harus melaksanakan ajaran Catur Purusha Artha,
sebagaimana yang disebtkan dalam kitab Sarasmuccaya sloka 12. “masa
Grhastha harus berlandaskan dengan Dharma, maka Artha dan Kama secara otomatis
akan kita peroleh berupa kedamaian (jagadhita).
(Jaman, 1998:9)
Sejak awal-awal kehidupan manusia, maka ternyata
keluarga merupakan salah satu lembaga yang efektif untuk pembentukan pribadi
manusia. Keluarga dibentuk dengan satu tujuan yaitu saling menjaga satu dengan
yang lainya dan mencapai tujuan utama dalam kehidupan. Dalam kitab Brahmanapurana
menyebutkan badan wadag yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi ini adalah
dipergunakan untuk mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Keempatnya terjalin
satu sama lainnya. Dalam Sarasmuccaya sloka 135 menegaskan
yang artinya “untuk menjamin tercapainya dharma, artha, kama dan moksa itu
haruslah melakukan bhutahita artinya melestarikan dan mengupayakan
kesejahteraan semua makhluk”. (Jaman, 1998:13)
Dalam Veda
Smrti Bab. IX.45 unsur-unsur dalam keluarga dikatakan sempurna yang terdiri
atas; Ia sendiri sebagai suami, istrinya dan keturunanya. Jadi antara suami,
istri dan anak-anaknya yang merupakan keluarga inti sebagai unsur dari keluarga
Hindu. Dimana satu satu sama lain saling berpacu menanamkan pengabdiannya
masing-masing secara tulus sebagai suatu kewajibannya terhadap unsur-unsur
lainnya untuk mengemban misi kehidupan berkeluarga dimaksud. Yang dilandasi
ajaran falsafah Jiva, Prana dan Sarira pada masing-masing pribadinya,
Parahyangan-Pawongan-Palemahan di dalam mengemban misi keluarga yang dinamakan
Tri Hita Karana. (Jaman, 1998:21)
2.2 IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM
KELUARGA HINDU
Segala sesuatu yang kita lakukan setiap harinya
tanpa kita sadari merupakan pengamalan dari ajaran Tri Hita Karana. Hanya saja
dalam melakukannya terkadang kita tidak tahu maknanya tetapi lebih kepada
menjalankan hal yang sudah dilakukan secara turun-temurun dan melekat kuat
dalam hati sebagai sebuah kepercayaan yang kebenarannya harus kita yakini.
Dalam mengimplementasikan ajaran Tri Hita Karana
juga tidak terlepas dari ajaran Tri Paramartha yaitu tiga (3) macam perbuatan
untuk membuat orang merasa bahagia. Adapun bagian-bagian dari Tri Paramartha
yaitu Asih, Punia, dan Bhakti. Dimana penjelasannya sebagai berikut :
a. Asih
(cinta kasih) artinya menyayangi dan mengasihi sesama mahluk seperti menyayangi
diri sendiri perbuatan ini harus dilandasi ketulusan hati
b. Punia
artinya perwujudan cinta kasih dalam bentuk saling menolong dengan memberikan
sesuatu kepada mereka yang membutuhkan. Pemberian biasanya berupa : makanan dan
minuman, pakaian dan perhiasan, pelayanan atau berupa ilmu pengetahuan
c. Bhakti
artinya perwujudan cinta kasih dan sujud bhakti kepada Hyang Widdhi, orang tua,
guru dan pemerintah. (Gde Rai, 2010:33)
Hidup harmonis seperti aman, damai,
sejuk, sejahtera dan sejenisnya merupakaan dambaan hidup bagi setiap orang
normal di dunia ini. Membangun kehidupan bersama yang harmonis, dinamis, dan
produktif di bumi ini memang membutuhkan landasan filosofi yang benar, tepat,
akurat dan kuat. Apa lagi dalam tradisi Hindu ada istila “ Vasu Dewa Kutumbhakam” yang berarti semua manusia di dunia ini bersaudara.
(Wiana, 2007:1)
Mengimplementasikan atau merealisasikan
ajaran Tri Hita Karana dalam lingkungan keluarga terutama pada anak-anak
haruslah di ajarkan sejak dini. Dalam konteks Parahyangan misalnya kita
mengajarkan atau mencontohkan bahwa kita harus sembahyang setiap hari sebagai
wujud rasa terima kasih kita kepada Tuhan atas anugrah-Nya.
Secara
umum dalam Tri Hita Karana ada tiga arah berbhakti kepada Tuhan yaitu :
a) Swa
Artha artinya tujuan beragama adalah diarahkan untuk meningkatkan kualitas diri
b) Para
Artha artinya beragama itu hendaknya ditujukan untuk meningkatkan pelayanan
pada sesama ciptaan tuhan
c) Parama
Artha artinya kepentingan yang paling utama
Bhakti
adalah puncak dari karma dan jnana, karma yang paling berkualitas tinggi adalah
dilakukan dengan sikap niskama karma.
Niskama karma adalah karma yang
dilakukan tanpa pamrih. Jadi bhakti adalah muara dari jnana dan karma, hal ini
ibarat gula batu. Antara berat bentuk dan rasa gula batu itu tidak dapat
dipisahkan. Dalam kitab Bhagawata Purana
VII. 5. 23. Disebutkan yang artinya : ada sembilan bhakti yang patut
dilaksanakan Sravanam, Kirtanam, Smaranam, Pada Sewanam, Dasyam, Arcanam,
Wandanam, Sakhyam dan Atmanivedanam.
a. Sravanam
adalah berbhakti atau memuja Tuhan dengan jalan mendengar cerita-cerita suci
keagamaan dan mendengarkan pembacaan mantra-mantra suci Weda
b. Kirtanam
artinya menghapal dengan jalan menyanyikan kidung suci kegamaan
c. Smaranam
adalah berbhakti kepada Tuhan dengan jalan selalu mengingat Tuhan atas segala
manifestasinya
d. Arcanam
adalah memuja dan menghormati Tuhan melalui media arca atau pratima
e. Wandanam
adalah suatu bentuk bhakti yang menjaga proses terbentuknya suatu struktur alam
pikiran yang ideal
f.
Dasyanam ialah melayani dan mengabdi
kepada Tuhan Yang Maha Esa
g. Padasewanam
adalah berbhakti kepada Tuhan dengan mengabdi pada padma kakinya
h. Sakhyanam
adalah bentuk bhakti kepada Tuhan seperti hubungan bersahabat dekat
i.
Atmaniwedanam pemujaan yang dilakukan
dengan penyerahan diri (atman)
sepenuhnya kepada Ida Sang Hyang Widhi. (Wiana, 2007 :73-118)
Dari sembilan cara berbhakti diatas sebenarnya sudah
kita laksanakan sebagian besarnya, hanya beberapa saja cara bhakti yang hanya
dapat dilaksanakan oleh orang-orang terpilih. Dari wujud bhakti diatas dapat
kita lihat bukti riil atau nyata konsep ajaran Tri Hita Karana dalam bagian
Parahyangan telah diamalkan oleh umat Hindu.
Setelah melaksanakan kewajiban pribadi sebagai umat
beragama yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan, mari kita melangkah ke tingkat
hidup kita tidak sebagai makhluk individu melainkan sebagai makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial kita harus mewujudkan sebuah harmoni.
Keharmonisan sosial dalam Tri Hita Karana dalam Mantra Artharvaveda III. 30. 4 menyatakan
sabda tuhan tentang persatuan sesama manusia sebagai berikut yang artinya : ”wahai
umat manusia, persatuanlah yang menyatukan semua para dewa. Aku memberikan yang
sama kepadamu juga sehingga anda mampu menciptakan persatuan di antara anda”.
(Wiana, 2007:125)
Dalam Rgveda X. 191.2 disebutkan tentang bagaimana
membangun suatu persatuan dalam mewujudkan kondisi kebersamaan yang harmonis, dinamis, humanis,
dan produktif dalam artian lahir batin. Mantra Rgveda tersebut sebagai berikut
yang artinya “ wahai umat manusia anda seharusnya berjalan bersama, berbicara
bersama-sama dengan pikiran yang sama seperti halnya para pendahulumu
bersama-sama membagi tugas mereka, begitulah anda mestinya memakai hakmu.
(Wiana, 2007:126)
Keharmonisan sosial tidak hanya berlaku dalam
masyarakat tapi dimulai juga dari keluarga itu sendiri, dimana setiap anggota
keluarga harus menempatkan diri sesuai tugas dan fungsi masing-masing
anggotanya. Karena dengan seperti itu maka kehidupan dalam keluarga akan
berjalan dengan baik sehingga secara otomatis akan baik pula dalam lingkungan
masyarakat.
Adapun kewajiban dari
seorang suami sebagai ayah dari anak-anaknya adalah sebagai berikut :
a. Menanamkan
ketakwaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
b. Membina
kesehatan rohaniah dan jasmaniah anaknya
c. Kesadaran
berekonomi (mempunyai pegangan hidup)
d. Memperdalam
kepemimpinan keluarga
e. Pendidikan,
investasi, SDM (sumber daya manusia)
f.
Melaksanakan Yajna
g. Menghormati
istri
h. Menggauli
istri
i.
Mengawinkan anak. (Raka Mas, 2002:1-23)
Kemudian
yang kedua adalah kewajiban pokok dari seorang istri yaitu :
a. Menciptakan
kesejahteraan keluarga
b. Pendidikan
anak-anak
c. Kebersihan,
kesehatan, dan kerapian rumah tangga
d. Penyelenggara
aktivitas agama
e. Istri
sebagai penerus keturunan
f.
Menjaga kerukunan dan kedamaian keluarga
g. Menjaga
kesetiaan terhadap suami
h. Kesucian
keluarga
i.
Menambah pengetahuan
j.
Penghormatan kepada para leluhur. (Raka
Mas, 2002:25-42)
Yang tak kalah pentingnya adalah
kewajiban seorang anak dalam keluarga. Anak adalah buah akibat dari adanya
proses perkawinan, karena itu anak dipandang sebagai tujuan hidup Grhastha
asrama (berumah tangga). Dalam hindu secara etimologi anak atau putra berarti
orang yang memberi pertolongan atau menyelamatkan arwah leluhurnya dari
neraka. Pernyataan ini tersurat dalam Sarasamuccaya sloka 228 yang artinya “yang
dianggap anak adalah orang yang menjadi pelindung bagi orang yang memerlukan
pertolongan, serta menolong kaum kerabat yang tertimpa kesengsaraan,
mensedekahkan segala hasil usahanya, memasak dan menyediakan makanan untuk
orang-orang miskin, demikian putra yang sejati namanya”.
Seorang anak dalam keluarga hindu lebih
dikenal dengan seorang brahmacari yang mempunyai kewajiban utama yaitu menuntut
ilmu pengetahuan menuntut ilmu pengetahuan baik formal maupun non formal dalam
arti seluas-luasnya untuk bekal di kemudian hari setelah menjalani fase-fase
yang berikutnya. Disamping belajar, seorang anak juga memiliki kewajiban untuk
menghormat kepada orang tuanya (ibu dan bapak) sebab kehidupan anak sepenuhnya
dijamin oleh orang tuanya, seperti tersurat dalam Sarasamuccaya sloka 239 yang artinya “orang yang menghormat kepada
ibu bapaknya setiap harinya, namanya teguh melakukan tapa dan senatiasa
menyucikan dirinya, tetap teguh berpegangan kepada yang disebut dharma”. Jika
anak selalu menghormati orang tuanya, maka ia dijanjikan akan memperoleh
pahala, umur panjang, nama baik, kekuatan dan sebagainya. (Jaman, 1998:41-43)
Jika semua hal tadi dilaksanakan oleh
masing-masing anggota sesuai dengan kewajibannya maka sudah dapat kita pastikan
bahwa keluarga ini akan menjadi keluarga yang harmonis dan sejahtera. Secara otomatis
dalam masyarakat keluarga ini juga akan tetap membawa sifat-sifat harmonis
mereka sehingga akan tecipta pula keharmonisan sosial bermasyarakat.
Selain harus menciptakan keharmonisan
dengan Tuhan (Parahyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), kita juga harus menjaga hubungan baik dengan
alam sekitar (Palemahan). Karena hidup kita sangat bergantung pada lingkungan,
lingkungan juga dapat menjadi guru yang sangat berharga dalam menempa kita.
Ketika lingkungan membentuk kita maka otomatis kita akan menjadi orang yang
benar-benar kuat.
Sebagai masyarakat Hindu tentunya sedari
kecil kita sudah diajari bagaimana cara menghormati dan mencintai alam sekitar,
terutama kita menghormati hutan. Hutan dalam sastra Hindu merupakan tempat yang
sangat sakral. Karena hutan dalam tingkat tertntu berarti dunia, meliputi
ciptaan secara keseluruhan. Kamu juga merupakan bagian dari hutan itu, engkau
tidak berada di luar hutan. Kamu bisa mengatur kembali, tetapi kamu tidak dapat
melewatinya.
Banwari, editor Jansata, majalah harian
berbahasa Hindi yang diterbitkan di Delhi, telah melakukan pengkajian yang
rinci terhadap budaya hutan di India untuk buku yang ditulisnya.
“Menurut umat Hindu,
dunia ini adalah sebuah hutan. Untuk mempertahankan dunia ini seperti adanya,
kita harus membiarkan hutan-hutan di dunia ini tidak terjamah. Agama Hindu
menjelaskan segala sesuatu dengan menghubungkannya dengan ketuhanan dan dalam
hubungannya dengan Realitas terakhir hidup ini. Berbagai aspek dari Realitas
yang tertinggi dapat ditemukan dalam berbagai bentuk kehidupan fisik.
Setiap objek fisik
melambangkan beberapa aspek Realitas. Diantaranya semuanya itu hutan merupakan
simbul kesucian ‘totalitas’ yang mengkombinasikan semua bentuk kehidupan dalam
suatu keseluruhan yang independen.
Dalam Bhagawad Gita,
Krisna membandingkan dunia dengan sepohon beringin dengan cabang yang tidak
terbatas tempat semua jenis hewan, manusia dan dewa-dewa berseliweran.
Kesadaran orang India penuh dengan pepohonan dan hutan. Jika kamu perhatikan,
misalnya, dalam literatur Yunani kamu akan menemukan hanya beberapa perian
mengenai pepohonan dan hutan, sedangkan literatur India seperti Ramayana dan
Mahabharata penuh dengan perian itu, seolah-olah orang selalu ada di bawah
pepohonan. Ikatan antara orang india dan pepohonan sangatlah tinggi.
Tradisi Hindu memerikan
hutan menjadi tiga kategori. Pertama Shrivan, adalah hutan yang menyediakan
kemakmuran. Kedua Tapovan, adalah hutan tempat kamu berkontemplasi seperti yang
dilakukan oleh para pertapa yang mencari kebenaran. Yang ketiga Mahavana adalah
hutan lebat yang alami tempat semua jenis kehidupan mendapatkan perlindungan.
Jadi hutan dengan tiga kategori ini harus dipertahankan”.
(Prime, 2006:12-13)
Demikian besar penghormatan umat Hindu
terhadap hutan membuat kita harus melestarikan hutan yang saat ini mulai habis
akibat ulah dari manusia yang tak mempunyai hati nurani. Manusia terkadang
menjadi sangat serakah dan memperkaya diri sendiri tanpa mau memperhatikan alam
sekitar. Jika kita tidak menyayangi alam maka keti alam “Marah” kita tidak akan
pernah apa yang akan terjadi.
Oleh karena sebagai umat hindu sudah
seharusnya mengajarkan dan merealisasikan (mengimplementasikan) ajaran Tri Hita
Karana dalam wujud nyata seperti yang telah penulis sebutkan diatas. Karena
kalau bukan kita sebagai penerus generasi Hindu dan generasi muda penerus
bangsa siapa lagi yang akan melaksanakannya. Marilah kita bergandeng tangan dan
beersama menjaga hutan untuk kelangsungan hidup di masa mendatang.
BAB III PENUTUP
3. 1 SIMPULAN
Sebagaimana
yang telah diuraikan dalam pembahasan makalah diatas maka penulis dapat menarik
kesimpulan, bahwa ajaran Tri Hita Karana adalah tiga hal yang dapat menyebabkan
seseorang mendapat kebahagian karena hidup dengan harmonis dan seimbang. Semua
orang tahu bahwa hidup seimbang adalah yang paling mutlak diperlukan. Untuk
memperoleh hidup yang seimbang haruslah dilakukan mulai dari hal yang terkecil
yaitu diri sendiri. Jika dalam diri kita sudah bisa seimbang maka lingkungan
keluarga, dan masyarakat tentunya akan mengikuti. Oleh karena itu implementasi
Tri Hita Karana haruslah dengan sepenuh hati jika ingin mendapat hasil yang
benar-benah maksimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Wiana, I Ketut, 2007. Tri Hita Karana Menutut Konsep Hindu,
Paramita: Surabaya
Jaman, I Gede, 1998. Membina Keluarga Sejahtera (Grha Jagadhita),
Paramitha: Surabaya
Raka Mas, A.A.G, 2002. Menjadi Orang Tua Mulia & Berguna,
Paramitha: Surabaya
Prime, Ranchore, 2006. Tri Hita Karana Ekologi Ajaran Hindu
Benih-benih Kebenaran, Paramitha: Surabaya
Rai Oka, I Dewa Gde, 2010. Kebenaran Abadi pengenalan Dasar Agama
Hindu, Cetakan Kedua, Yayasan Dewi Saraswati: Mataram