Minggu, 27 Oktober 2013

implementasi tri hita karana dalam keluarga hindu





“IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM KELUARGA HINDU”


OLEH :

Nama        : Ni Luh Putu Juwita Dewi Novianti
NIM           : 111 111 09
Jurusan     : Pendidikan Agama Hindu
Semester   : IIIA, Pagi

KEMENTERIAN AGAMA
SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI GDE PUDJA MATARAM 2012
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Puji syukur tak henti-hentinya penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas Asung Wara Nugraha-Nyalah maka kami dapat menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada kami. Adapun tugas kami ini berbentuk makalah, makalah ini berjudul “IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM KELUARGA HINDU” telah dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa banyak sekali kekurangan yang ada dalam makalah ini. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya atas segala sumbangsih yang telah diberikan sehingga makalah ini dapat bermaanfaat nantinya maka kami selaku penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om



Mataram,     November 2012

                                                                                                              Penulis
Daftar Isi
Halaman Judul ..................................................................................................................... i
Kata Pengantar ................................................................................................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................................................ iii
BAB I Pendahuluan
1.1  Latar Belakang ................................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah ............................................................................................... 3
1.3  Tujuan penulisan ................................................................................................. 4
BAB II Pembahasan
2.1 Pengertian Keluarga ...........................................................................................  5
2.2 Implementasi Ajaran Tri Hita Karana Dalam Keluarga Hindu................................ 6
BAB III Penutup
3.1 Simpulan ........................................................................................................... 15
Daftar Pustaka








BAB I PENDAHULUAN
1.1              LATAR BELAKANGAN

Sebagai umat hindu terlebih lagi sebagai seorang siswa tentu saja kita tidak asing lagi mendengar kata Tri Hita Karana, karena dari sejak SD (sekolah dasar) kita telah diperkenalkan dengan Tri Hita Karana. Meskipun dalam Weda Sruti maupun Smerti sloka yang menyebutkan secara khusus tentang Tri Hita Karana tidak ada. Hanya saja masyarakat hindu sudah mengimplementasikan ajaran tersebut.

Secara etimologis bahasa Sanskerta istilah Tri Hita Karana berasal dari tiga kata yaitu Tri artinya tiga, Hita artinya bahagia, dan Karana artinya penyebab. Jadi Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kebahagiaan. Kebahagian akan terwujud apabila kita telah mampu mewujudkan suatu harmoni. Harmoni adalah suatu hubungan yang selaras dan seimbang antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungan. (Wiana, 2007: 5-6). Atas dasar pengertian keharmonisan inilah maka orang-orang Hindu tetap tidak mau memisahkan agama mereka dari kehidupan sehari-hari, atau untuk memisahkan kepercayaan dari kepercayaan besar lainnya di dunia.

Hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan) lebih menekankan agar manusia menjaga kebersihan dan kesucian dirinya secara lahir dan bathin serta selalu mendekatkan diri pada beliau melalui tri sandhya, tirtayatra, yoga dan samadi. Hubungan manusia dengan sesamanya (Pawongan) hubungan ini melandasi rasa kasih sayang, saling menolong dan toleransi. Hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan) menekankan pada kemampuan manusia untuk memelihara, menjaga dan memperbaiki kualitas lingkungannya melalui serangkaian upacara tertentu. (Gde Rai, 2010:45)

Dasar filosofi dari Tri Hita Karana berdasarkan pada Bhagawad Gita III. 10 dimana unsur dari Tri Hita Karana adalah Prajapati, Praja, dan Kamadhuk. Filosofi hidup dalam Tri Hita Karana untuk mewujudkan sikap hidup seimbang dan konsisten untuk percaya dan bhakti pada Tuhan, mengabdi pada sesama dan memelihara kesejahtraan alam lingkungan. Pemahaman tentang Tri Hita Karana tidak boleh sepotong-sepotong karena itu hendaknya Tri Hita Karana di pahami sebagai suatu kesatuan yang utuh, sinergis dan konsisten sebagai filosofi hidup yang universal. (Wiana, 2007-8)

Selain itu Tri Hita Karana juga berhubungan erat dengan Catur Purusa Artha yaitu empat tujuan hidup umat hindu terdiri dari Dharma, Artha, Kama, dan Moksa. Serta berhubungan pula dengan Catur Asrama yaitu empat tingkatan atau tahapan hidup yang harus dilalui oleh seseorang, terdiri dari Brahmacari Asrama, Grhastha Asrama, Wanaprastha Asrama, dan Sannyasin Asrama. (Wiana, 2007:11-20)

Agama hindu mempercayai bahwa alam dan manusia diciptakan oleh Tuhan berdasarkan yajna, artinya Tuhan terkait dengan ciptaan-Nya itu hal ini disebut dengan Lila. Untuk kehidupan alam dan manusia Tuhan menciptakan Rta dan Dharma. Rta adalah hukuman yang diciptakan oleh Tuhan untuk mengendalikan dinamika alam yang harmoni dan salah satu dari enam yang menyangga tegaknya Ibu Pertiwi (Atharwaveda XII. 1. 1). Sedangkan Dharma menurut Manawa Dharmasastra VII. 14 menyatakan bahwa Dharma adalah putra Tuhan untuk melindungi semua ciptaan-Nya. Oleh karena itu harmoni alam, manusia, dan Tuhan harus ditegakkan manusia berdasarkan Rta dan Dharma. Taat kepada Rta berarti taat kepada kehendak tuhan, menegakkan hukum Rta berarti mengabdi pada sesama manusia dan lingkungan. Berpedoman kepa Rta dan Dharma adalah wujud Sraddha dan Bhakti kepada Tuhan. (Wiana, 2007: 21)

Dalam ajaran Tri Hita Karana yang menjadi unsur sentral adalah manusia, karena hanya manusia yang memiliki Sabda, Bayu, dan Idep. Ajaran Samkhya Darsana memandang manusia terdiri dari dua unsur yaitu kejiwaan (Purusha) dan kebendaan (Pradana). Purusa memiliki kesadaran disebut dengan Citta dengan empat kekuatan yaitu Dharma, Jnana, Wairagya, dan Aiswara. Setelah Purusa dan Pradana bertemu muncullah Klesa. Klesa memiliki empat kekuatan yaitu Awidya, Asmita, Raga, Dwesa, dan  Abhiniwesa. (Wiana, 2007:26)

Oleh karena adanya Citta dan Klesa menyebabkan manusia memiliki sifat kedewataan yang disebut dengan Daiwi Sampad dan sifat keraksasaan yang disebut Asuri Sampad. Maka dalam diri manusia merupakan sesuatu yang sangat kompleks karena semua yang ada di dunia ini sudah terdapat dalam tubuh kita. Dengan ajaran Tri Hita Karana mari kita wujudkan hidup yang selaras dan seimbang. Dan untuk mewujudkan itu semua haruslah diulai dari lingkungan yang terkecil yaitu lingkungan keluarga kita.



1.2              RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang diatas maka penulis dapat menarik sebuah masalah untuk dapat diulas lebih lanjut dalam pembahasan, adapu masalahnya adalah “ bagaimana implementasi Tri Hita Karana dalam keluarga Hindu”??




1.3              TUJUAN PENULISAN

Segala sesuatu yang kita lakukan tentunya memiliki tujuan yang baik. Demikian pula makalah ini memiliki suatu tujuan mulia yaitu mengetahui wujud nyata implementasi ajaran Tri Hita Karana dalam keluarga Hindu dalam mewujudkan harmoni dalam hidup.

























BAB II PEMBAHASAN

2.1       PENGERTIAN KELUARGA

Keluarga adalah suatu jalinan ikatan pengabdian antara suami, istri, dan anak. Jadi keluarga di sini adalah persatuan yang terjalin di antara seluruh anggota keluarga adalah dalam rangka “Pengabdiannya” kepada missi atau amanat dasar, yang mestinya diemban oleh anggota keluarga yang bersangkutan. Sekali lagi dasar ikatan dalam keluarga adalah “Pengabdian” bukan pengorbanan. (Jaman, 1998:10)

Dari pengertian diatas maka yang disebut keluarga adalah orang yang menjalani hidup Grhastha. Menurut kitab Agastya Parva disebutkan Grhasthalah beliau dengan beristrilah beliau, mempunyai anak, memiliki abdi, memupuk kebajikan yang berhubungan dengan pembinaan diri pribadi (Kayika dharma) dengan kekuatan yang ada padanya (Yathasakti). Dengan melaksanakan kehidupan Grhastha kita harus melaksanakan ajaran Catur Purusha Artha, sebagaimana yang disebtkan dalam kitab Sarasmuccaya sloka 12. “masa Grhastha harus berlandaskan dengan Dharma, maka Artha dan Kama secara otomatis akan kita peroleh berupa kedamaian (jagadhita). (Jaman, 1998:9)

Sejak awal-awal kehidupan manusia, maka ternyata keluarga merupakan salah satu lembaga yang efektif untuk pembentukan pribadi manusia. Keluarga dibentuk dengan satu tujuan yaitu saling menjaga satu dengan yang lainya dan mencapai tujuan utama dalam kehidupan. Dalam kitab Brahmanapurana menyebutkan badan wadag yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi ini adalah dipergunakan untuk mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Keempatnya terjalin satu sama lainnya. Dalam Sarasmuccaya sloka 135 menegaskan yang artinya “untuk menjamin tercapainya dharma, artha, kama dan moksa itu haruslah melakukan bhutahita artinya melestarikan dan mengupayakan kesejahteraan semua makhluk”. (Jaman, 1998:13)

                        Dalam Veda Smrti Bab. IX.45 unsur-unsur dalam keluarga dikatakan sempurna yang terdiri atas; Ia sendiri sebagai suami, istrinya dan keturunanya. Jadi antara suami, istri dan anak-anaknya yang merupakan keluarga inti sebagai unsur dari keluarga Hindu. Dimana satu satu sama lain saling berpacu menanamkan pengabdiannya masing-masing secara tulus sebagai suatu kewajibannya terhadap unsur-unsur lainnya untuk mengemban misi kehidupan berkeluarga dimaksud. Yang dilandasi ajaran falsafah Jiva, Prana dan Sarira pada masing-masing pribadinya, Parahyangan-Pawongan-Palemahan di dalam mengemban misi keluarga yang dinamakan Tri Hita Karana. (Jaman, 1998:21)



2.2       IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM       KELUARGA HINDU

Segala sesuatu yang kita lakukan setiap harinya tanpa kita sadari merupakan pengamalan dari ajaran Tri Hita Karana. Hanya saja dalam melakukannya terkadang kita tidak tahu maknanya tetapi lebih kepada menjalankan hal yang sudah dilakukan secara turun-temurun dan melekat kuat dalam hati sebagai sebuah kepercayaan yang kebenarannya harus kita yakini.

Dalam mengimplementasikan ajaran Tri Hita Karana juga tidak terlepas dari ajaran Tri Paramartha yaitu tiga (3) macam perbuatan untuk membuat orang merasa bahagia. Adapun bagian-bagian dari Tri Paramartha yaitu Asih, Punia, dan Bhakti. Dimana penjelasannya sebagai berikut :

a.       Asih (cinta kasih) artinya menyayangi dan mengasihi sesama mahluk seperti menyayangi diri sendiri perbuatan ini harus dilandasi ketulusan hati
b.      Punia artinya perwujudan cinta kasih dalam bentuk saling menolong dengan memberikan sesuatu kepada mereka yang membutuhkan. Pemberian biasanya berupa : makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, pelayanan atau berupa ilmu pengetahuan
c.       Bhakti artinya perwujudan cinta kasih dan sujud bhakti kepada Hyang Widdhi, orang tua, guru dan pemerintah. (Gde Rai, 2010:33)
Hidup harmonis seperti aman, damai, sejuk, sejahtera dan sejenisnya merupakaan dambaan hidup bagi setiap orang normal di dunia ini. Membangun kehidupan bersama yang harmonis, dinamis, dan produktif di bumi ini memang membutuhkan landasan filosofi yang benar, tepat, akurat dan kuat. Apa lagi dalam tradisi Hindu ada istila “ Vasu Dewa Kutumbhakam” yang berarti semua manusia di dunia ini bersaudara. (Wiana, 2007:1)
Mengimplementasikan atau merealisasikan ajaran Tri Hita Karana dalam lingkungan keluarga terutama pada anak-anak haruslah di ajarkan sejak dini. Dalam konteks Parahyangan misalnya kita mengajarkan atau mencontohkan bahwa kita harus sembahyang setiap hari sebagai wujud rasa terima kasih kita kepada Tuhan atas anugrah-Nya.


Secara umum dalam Tri Hita Karana ada tiga arah berbhakti kepada Tuhan yaitu :
a)      Swa Artha artinya tujuan beragama adalah diarahkan untuk meningkatkan kualitas diri
b)      Para Artha artinya beragama itu hendaknya ditujukan untuk meningkatkan pelayanan pada sesama ciptaan tuhan
c)      Parama Artha artinya kepentingan yang paling utama
                        Bhakti adalah puncak dari karma dan jnana, karma yang paling berkualitas tinggi adalah dilakukan dengan sikap niskama karma. Niskama karma adalah karma yang dilakukan tanpa pamrih. Jadi bhakti adalah muara dari jnana dan karma, hal ini ibarat gula batu. Antara berat bentuk dan rasa gula batu itu tidak dapat dipisahkan. Dalam kitab Bhagawata Purana VII. 5. 23. Disebutkan yang artinya : ada sembilan bhakti yang patut dilaksanakan Sravanam, Kirtanam, Smaranam, Pada Sewanam, Dasyam, Arcanam, Wandanam, Sakhyam dan Atmanivedanam.
a.       Sravanam adalah berbhakti atau memuja Tuhan dengan jalan mendengar cerita-cerita suci keagamaan dan mendengarkan pembacaan mantra-mantra suci Weda
b.      Kirtanam artinya menghapal dengan jalan menyanyikan kidung suci kegamaan
c.       Smaranam adalah berbhakti kepada Tuhan dengan jalan selalu mengingat Tuhan atas segala manifestasinya
d.      Arcanam adalah memuja dan menghormati Tuhan melalui media arca atau pratima
e.       Wandanam adalah suatu bentuk bhakti yang menjaga proses terbentuknya suatu struktur alam pikiran yang ideal
f.        Dasyanam ialah melayani dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa
g.       Padasewanam adalah berbhakti kepada Tuhan dengan mengabdi pada padma kakinya
h.       Sakhyanam adalah bentuk bhakti kepada Tuhan seperti hubungan bersahabat dekat
i.         Atmaniwedanam pemujaan yang dilakukan dengan penyerahan  diri (atman) sepenuhnya kepada Ida Sang Hyang Widhi. (Wiana, 2007 :73-118)

Dari sembilan cara berbhakti diatas sebenarnya sudah kita laksanakan sebagian besarnya, hanya beberapa saja cara bhakti yang hanya dapat dilaksanakan oleh orang-orang terpilih. Dari wujud bhakti diatas dapat kita lihat bukti riil atau nyata konsep ajaran Tri Hita Karana dalam bagian Parahyangan telah diamalkan oleh umat Hindu.

Setelah melaksanakan kewajiban pribadi sebagai umat beragama yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan, mari kita melangkah ke tingkat hidup kita tidak sebagai makhluk individu melainkan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial kita harus mewujudkan sebuah harmoni.

Keharmonisan sosial dalam Tri Hita Karana dalam Mantra Artharvaveda III. 30. 4 menyatakan sabda tuhan tentang persatuan sesama manusia sebagai berikut yang artinya : ”wahai umat manusia, persatuanlah yang menyatukan semua para dewa. Aku memberikan yang sama kepadamu juga sehingga anda mampu menciptakan persatuan di antara anda”. (Wiana, 2007:125)

Dalam Rgveda X. 191.2 disebutkan tentang bagaimana membangun suatu persatuan dalam mewujudkan kondisi  kebersamaan yang harmonis, dinamis, humanis, dan produktif dalam artian lahir batin. Mantra Rgveda tersebut sebagai berikut yang artinya “ wahai umat manusia anda seharusnya berjalan bersama, berbicara bersama-sama dengan pikiran yang sama seperti halnya para pendahulumu bersama-sama membagi tugas mereka, begitulah anda mestinya memakai hakmu. (Wiana, 2007:126)

Keharmonisan sosial tidak hanya berlaku dalam masyarakat tapi dimulai juga dari keluarga itu sendiri, dimana setiap anggota keluarga harus menempatkan diri sesuai tugas dan fungsi masing-masing anggotanya. Karena dengan seperti itu maka kehidupan dalam keluarga akan berjalan dengan baik sehingga secara otomatis akan baik pula dalam lingkungan masyarakat.

Adapun kewajiban dari seorang suami sebagai ayah dari anak-anaknya adalah sebagai berikut :

a.       Menanamkan ketakwaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
b.      Membina kesehatan rohaniah dan jasmaniah anaknya
c.       Kesadaran berekonomi (mempunyai pegangan hidup)
d.      Memperdalam kepemimpinan keluarga
e.       Pendidikan, investasi, SDM (sumber daya manusia)
f.        Melaksanakan Yajna
g.       Menghormati istri
h.       Menggauli istri
i.         Mengawinkan anak. (Raka Mas, 2002:1-23)
Kemudian yang kedua adalah kewajiban pokok dari seorang istri yaitu :
a.       Menciptakan kesejahteraan keluarga
b.      Pendidikan anak-anak
c.       Kebersihan, kesehatan, dan kerapian rumah tangga
d.      Penyelenggara aktivitas agama
e.       Istri sebagai penerus keturunan
f.        Menjaga kerukunan dan kedamaian keluarga
g.       Menjaga kesetiaan terhadap suami
h.       Kesucian keluarga
i.         Menambah pengetahuan
j.        Penghormatan kepada para leluhur. (Raka Mas, 2002:25-42)
Yang tak kalah pentingnya adalah kewajiban seorang anak dalam keluarga. Anak adalah buah akibat dari adanya proses perkawinan, karena itu anak dipandang sebagai tujuan hidup Grhastha asrama (berumah tangga). Dalam hindu secara etimologi anak atau putra berarti orang yang memberi pertolongan atau menyelamatkan arwah leluhurnya dari neraka.  Pernyataan ini tersurat dalam Sarasamuccaya sloka 228 yang artinya “yang dianggap anak adalah orang yang menjadi pelindung bagi orang yang memerlukan pertolongan, serta menolong kaum kerabat yang tertimpa kesengsaraan, mensedekahkan segala hasil usahanya, memasak dan menyediakan makanan untuk orang-orang miskin, demikian putra yang sejati namanya”.
Seorang anak dalam keluarga hindu lebih dikenal dengan seorang brahmacari yang mempunyai kewajiban utama yaitu menuntut ilmu pengetahuan menuntut ilmu pengetahuan baik formal maupun non formal dalam arti seluas-luasnya untuk bekal di kemudian hari setelah menjalani fase-fase yang berikutnya. Disamping belajar, seorang anak juga memiliki kewajiban untuk menghormat kepada orang tuanya (ibu dan bapak) sebab kehidupan anak sepenuhnya dijamin oleh orang tuanya, seperti tersurat dalam Sarasamuccaya sloka 239 yang artinya “orang yang menghormat kepada ibu bapaknya setiap harinya, namanya teguh melakukan tapa dan senatiasa menyucikan dirinya, tetap teguh berpegangan kepada yang disebut dharma”. Jika anak selalu menghormati orang tuanya, maka ia dijanjikan akan memperoleh pahala, umur panjang, nama baik, kekuatan dan sebagainya. (Jaman, 1998:41-43)
Jika semua hal tadi dilaksanakan oleh masing-masing anggota sesuai dengan kewajibannya maka sudah dapat kita pastikan bahwa keluarga ini akan menjadi keluarga yang harmonis dan sejahtera. Secara otomatis dalam masyarakat keluarga ini juga akan tetap membawa sifat-sifat harmonis mereka sehingga akan tecipta pula keharmonisan sosial bermasyarakat.
Selain harus menciptakan keharmonisan dengan Tuhan (Parahyangan), dengan sesama manusia (Pawongan),  kita juga harus menjaga hubungan baik dengan alam sekitar (Palemahan). Karena hidup kita sangat bergantung pada lingkungan, lingkungan juga dapat menjadi guru yang sangat berharga dalam menempa kita. Ketika lingkungan membentuk kita maka otomatis kita akan menjadi orang yang benar-benar kuat.
Sebagai masyarakat Hindu tentunya sedari kecil kita sudah diajari bagaimana cara menghormati dan mencintai alam sekitar, terutama kita menghormati hutan. Hutan dalam sastra Hindu merupakan tempat yang sangat sakral. Karena hutan dalam tingkat tertntu berarti dunia, meliputi ciptaan secara keseluruhan. Kamu juga merupakan bagian dari hutan itu, engkau tidak berada di luar hutan. Kamu bisa mengatur kembali, tetapi kamu tidak dapat melewatinya.
Banwari, editor Jansata, majalah harian berbahasa Hindi yang diterbitkan di Delhi, telah melakukan pengkajian yang rinci terhadap budaya hutan di India untuk buku yang ditulisnya.
“Menurut umat Hindu, dunia ini adalah sebuah hutan. Untuk mempertahankan dunia ini seperti adanya, kita harus membiarkan hutan-hutan di dunia ini tidak terjamah. Agama Hindu menjelaskan segala sesuatu dengan menghubungkannya dengan ketuhanan dan dalam hubungannya dengan Realitas terakhir hidup ini. Berbagai aspek dari Realitas yang tertinggi dapat ditemukan dalam berbagai bentuk kehidupan fisik.
Setiap objek fisik melambangkan beberapa aspek Realitas. Diantaranya semuanya itu hutan merupakan simbul kesucian ‘totalitas’ yang mengkombinasikan semua bentuk kehidupan dalam suatu keseluruhan yang independen.
Dalam Bhagawad Gita, Krisna membandingkan dunia dengan sepohon beringin dengan cabang yang tidak terbatas tempat semua jenis hewan, manusia dan dewa-dewa berseliweran. Kesadaran orang India penuh dengan pepohonan dan hutan. Jika kamu perhatikan, misalnya, dalam literatur Yunani kamu akan menemukan hanya beberapa perian mengenai pepohonan dan hutan, sedangkan literatur India seperti Ramayana dan Mahabharata penuh dengan perian itu, seolah-olah orang selalu ada di bawah pepohonan. Ikatan antara orang india dan pepohonan sangatlah tinggi.
Tradisi Hindu memerikan hutan menjadi tiga kategori. Pertama Shrivan, adalah hutan yang menyediakan kemakmuran. Kedua Tapovan, adalah hutan tempat kamu berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh para pertapa yang mencari kebenaran. Yang ketiga Mahavana adalah hutan lebat yang alami tempat semua jenis kehidupan mendapatkan perlindungan. Jadi hutan dengan tiga kategori ini harus dipertahankan”. (Prime, 2006:12-13)
Demikian besar penghormatan umat Hindu terhadap hutan membuat kita harus melestarikan hutan yang saat ini mulai habis akibat ulah dari manusia yang tak mempunyai hati nurani. Manusia terkadang menjadi sangat serakah dan memperkaya diri sendiri tanpa mau memperhatikan alam sekitar. Jika kita tidak menyayangi alam maka keti alam “Marah” kita tidak akan pernah apa yang akan terjadi.
Oleh karena sebagai umat hindu sudah seharusnya mengajarkan dan merealisasikan (mengimplementasikan) ajaran Tri Hita Karana dalam wujud nyata seperti yang telah penulis sebutkan diatas. Karena kalau bukan kita sebagai penerus generasi Hindu dan generasi muda penerus bangsa siapa lagi yang akan melaksanakannya. Marilah kita bergandeng tangan dan beersama menjaga hutan untuk kelangsungan hidup di masa mendatang.


















BAB III PENUTUP

3. 1      SIMPULAN
                        Sebagaimana yang telah diuraikan dalam pembahasan makalah diatas maka penulis dapat menarik kesimpulan, bahwa ajaran Tri Hita Karana adalah tiga hal yang dapat menyebabkan seseorang mendapat kebahagian karena hidup dengan harmonis dan seimbang. Semua orang tahu bahwa hidup seimbang adalah yang paling mutlak diperlukan. Untuk memperoleh hidup yang seimbang haruslah dilakukan mulai dari hal yang terkecil yaitu diri sendiri. Jika dalam diri kita sudah bisa seimbang maka lingkungan keluarga, dan masyarakat tentunya akan mengikuti. Oleh karena itu implementasi Tri Hita Karana haruslah dengan sepenuh hati jika ingin mendapat hasil yang benar-benah maksimal.











DAFTAR PUSTAKA


Wiana, I Ketut, 2007. Tri Hita Karana Menutut Konsep Hindu, Paramita: Surabaya

Jaman, I Gede, 1998. Membina Keluarga Sejahtera (Grha Jagadhita), Paramitha: Surabaya

Raka Mas, A.A.G, 2002. Menjadi Orang Tua Mulia & Berguna, Paramitha: Surabaya

Prime, Ranchore, 2006. Tri Hita Karana Ekologi Ajaran Hindu Benih-benih Kebenaran, Paramitha: Surabaya

Rai Oka, I Dewa Gde, 2010. Kebenaran Abadi pengenalan Dasar Agama Hindu, Cetakan Kedua, Yayasan Dewi Saraswati: Mataram